Balung Buto dan Ingatan Kolektif: Negosiasi Identitas Budaya di Kawasan Paleontologi Sangiran, Ngandong, dan Bumiayu

Main Article Content

Dwi Scativana Isnaeni Isnaeni

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana fosil dan tinggalan paleontologis direpresentasikan dalam ingatan kolektif yang terdokumentasi serta bagaimana representasi tersebut berhubungan dengan konstruksi identitas budaya di kawasan Sangiran, Ngandong, dan Bumiayu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi dokumenter-komparatif. Data diperoleh melalui penelusuran artikel ilmiah, buku akademik, dokumen pengelolaan warisan, publikasi resmi lembaga kebudayaan dan pemerintah, dokumentasi museum, serta sumber tertulis mengenai folklor dan sejarah penelitian fosil. Analisis dilakukan melalui pembacaan intra-kasus dan perbandingan lintas kasus dengan memusatkan perhatian pada bentuk pemaknaan fosil, perubahan representasi dari penjelasan budaya menuju klasifikasi ilmiah, proses institusionalisasi warisan, dan hubungan antara tinggalan paleontologis dengan identitas tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balung buto merupakan kategori budaya yang terdokumentasi dalam sejarah pemaknaan fosil di Sangiran, terutama melalui narasi mengenai tulang raksasa dan cerita peperangan dalam tradisi lokal. Perkembangan pengetahuan paleontologi dan paleoantropologi, museumisasi, pendidikan, serta rezim pelestarian kemudian mengubah posisi narasi tersebut tanpa harus menghapus seluruh nilai budayanya. Perbandingan dengan Ngandong dan Bumiayu menunjukkan bahwa identitas paleontologis kawasan tidak terbentuk melalui satu pola yang seragam, melainkan melalui konfigurasi yang berbeda antara bukti material, sejarah penelitian, narasi budaya, karakter lanskap, dan institusi pelestarian. Penelitian ini menegaskan bahwa warisan paleontologis perlu dipahami sebagai fenomena material sekaligus sosial-kultural, dengan membedakan secara tegas antara nilai ilmiah fosil dan sejarah pemaknaan budaya yang berkembang di sekitarnya.

Article Details

Section

Articles

References

Antón, S. C. (2003). Natural history of Homo erectus. American Journal of Physical Anthropology, 122(S37), 126–170. https://doi.org/10.1002/ajpa.10399

Arjanto, D. Q., & Dewi, I. K. (2024). Preliminary study on Semedo’s bone artifacts, Tegal, Central Java: Kajian awal artefak tulang Situs Semedo di Tegal, Jawa Tengah. Berkala Arkeologi, 44(1), 1–18. https://doi.org/10.55981/jba.2024.3881

Bettis, E. A., III, Milius, A. K., Carpenter, S. J., Larick, R., Zaim, Y., Rizal, Y., Ciochon, R. L., Tassier-Surine, S. A., Murray, D., Suminto, & Bronto, S. (2009). Way out of Africa: Early Pleistocene paleoenvironments inhabited by Homo erectus in Sangiran, Java. Journal of Human Evolution, 56(1), 11–24. https://doi.org/10.1016/j.jhevol.2008.09.003

Fauzi, M. R., Ansyori, M. M., Prastiningtyas, D., Intan, M. F. S., et al. (2016). Matar: A forgotten but promising Pleistocene locality in East Java. Quaternary International, 416, 183–192. https://doi.org/10.1016/j.quaint.2015.12.091

Halbwachs, M. (1992). On collective memory (L. A. Coser, Trans.). University of Chicago Press. (Original work published 1950).

Handini, R. (2015). Balung buto dalam persepsi masyarakat Sangiran: Antara mitos dan fakta. Kalpataru, 24(1), 61–72. https://doi.org/10.24832/kpt.v24i1.63

Harrison, R. (2013). Heritage: Critical approaches. Routledge.

Husson, L., Salles, T., Lebatard, A.-E., Zerathe, S., Braucher, R., Noerwidi, S., Aribowo, S., Mallard, C., Carcaillet, J., Natawidjaja, D. H., Bourlès, D., & ASTER Team. (2022). Javanese Homo erectus on the move in Southeast Asia circa 1.8 Ma. Scientific Reports, 12, 19012. https://doi.org/10.1038/s41598-022-23206-9

Hidayat, M. (2003). Situs Sangiran: Potensi dan permasalahan dalam pengembangan dan pemanfaatannya. Berkala Arkeologi, 23(2). https://doi.org/10.30883/jba.v23i2.880

International Council on Monuments and Sites. (2008). The ICOMOS charter for the interpretation and presentation of cultural heritage sites. ICOMOS.

Kubat, J., Nava, A., Bondioli, L., Dean, M. C., Zanolli, C., Bourgon, N., Bacon, A.-M., Demeter, F., Peripoli, B., Albert, R., Lüdecke, T., Hertler, C., Mahoney, P., Kullmer, O., Schrenk, F., & Müller, W. (2023). Dietary strategies of Pleistocene Pongo sp. and Homo erectus on Java (Indonesia). Nature Ecology & Evolution, 7, 279–289. https://doi.org/10.1038/s41559-022-01947-0

Larick, R., Ciochon, R. L., Zaim, Y., Sudijono, Suminto, Rizal, Y., Aziz, F., Reagan, M., & Heizler, M. (2001). Early Pleistocene ^40Ar/^39Ar ages for Bapang Formation hominins, Central Java, Indonesia. Proceedings of the National Academy of Sciences, 98(9), 4866–4871. https://doi.org/10.1073/pnas.081077298

Matsu’ura, S., Westaway, K. E., Kondo, M., & de Vos, J. (2020). The age of the Ngandong Homo erectus fossils: A reassessment of the geochronology of the site. Nature, 584, 162–166. https://doi.org/10.1038/s41586-020-2431-0

Noerwidi, S., & Siswanto. (2014). Alat batu Situs Semedo: Keragaman tipologi dan distribusi spasialnya. Berkala Arkeologi, 34(1). https://doi.org/10.30883/jba.v34i1.13

Noerwidi, S., Siswanto, & Widianto, H. (2016). Giant primate of Java: A new Gigantopithecus specimen from Semedo. Berkala Arkeologi, 36(2), 141–160. https://doi.org/10.24832/berkalaarkeologi.v36i2.96

Oktarisa, T. L., Prihatiningtias, A. L., Prabawa, T. S., & Susilowati, L. (2021). Visitors’ motivation and perception on Sangiran Early Man Museum, Krikilan Cluster: Motivasi dan persepsi pengunjung terhadap Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan. Berkala Arkeologi, 41(1), 109–128. https://doi.org/10.30883/jba.v41i1.570

Purnomo, A., Bimas, I. S., & Tiauzzon, A. (2015). Developing communities and value’s conservation in Sangiran World Heritage, Indonesia. Jurnal Sangiran, 4, 93–99.

Relph, E. C. (1976). Place and placelessness. London: Pion. 156 pp. ISBN 0-85086-055-5.

Rizal, Y., Westaway, K. E., Zaim, Y., van den Bergh, G. D., Bettis, E. A., Morwood, M. J., Huffman, O. F., Grün, R., Joannes-Boyau, R., Bailey, R. M., Sidarto, Westaway, M. C., Kurniawan, I., Moore, M. W., Storey, M., Aziz, F., Suminto, Zhao, J.-X., Aswan, Sipola, M. E., Larick, R., Zonneveld, J.-P., Scott, R., Putt, S., & Ciochon, R. L. (2020). Last appearance of Homo erectus at Ngandong, Java, 117,000–108,000 years ago. Nature, 577, 381–385. https://doi.org/10.1038/s41586-019-1863-2

Sari, R. A. P., Djafar, A., Suharyogi, I. Y. P., Winantris, Fauzielly, L., & Setiyabudi, E. (2022). Identifikasi lokasi sebaran fosil untuk penentuan konservasi Situs Paleontologi Bumiayu, Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Geosains dan Teknologi, 5(2), 116–129. https://doi.org/10.14710/jgt.5.2.2022.116-129

Sémah, A.-M., Sémah, F., Falguères, C., Grün, R., & Westaway, K. E. (2016). The significance of the Sangiran site for understanding human evolution in Southeast Asia. Quaternary International, 416, 1–12.

Smith, L. (2006). Uses of heritage. 1st ed. Abingdon, UK: Routledge. 351 pp. ISBN 0-415-31830-0.

Soelistyanto, B. (1995). Perilaku masyarakat terhadap benda cagar budaya Sangiran: Studi kasus di Desa Krikilan. Berkala Arkeologi, 15(1), 46–64. https://doi.org/10.30883/jba.v15i1.654

Soelistyanto, B. (1996). Perubahan sosial di kawasan benda cagar budaya Sangiran: Studi tentang perubahan perilaku. Berkala Arkeologi, 16(2), 28–41. https://doi.org/10.30883/jba.v16i2.751

Sukmi, S. N. (2025). Batik Sangiran: Alternatif pelestarian berbasis masyarakat dalam pelestarian Situs Prasejarah Sangiran. Prosiding Konferensi Nasional Prasejarah Indonesia 2024. https://doi.org/10.55981/konpi.2024.167

Sulistyanto, B. (2009). Warisan dunia Situs Sangiran: Persepsi menurut penduduk Sangiran. Wacana, 11(1), 57–80. https://doi.org/10.17510/wjhi.v11i1.144

UNESCO World Heritage Centre. (1996). Sangiran early man site. UNESCO World Heritage Centre.

Widianto, H. (2006). Dari Pithecanthropus ke Homo erectus: Situs, stratigrafi, dan pertanggalan temuan fosil manusia di Indonesia. Berkala Arkeologi, 26(2), 114–129. https://doi.org/10.30883/jba.v26i2.936

Widianto, H., & Noerwidi, S. (2020). It’s time to look to the west: A new interpretation on Homo erectus findings distribution of Java. Berkala Arkeologi, 40(2), 153–178. https://doi.org/10.30883/jba.v40i2.598