The Legal Politics of Indigenous Peoples’ Rights Recognition Following Constitutional Court Decision Number 35/PUU-X/2012 from a Human Rights Perspective

Main Article Content

Frans Tory Damara Pradipta

Abstract

The recognition of indigenous peoples’ rights remains a crucial legal issue in Indonesia despite constitutional guarantees and Constitutional Court Decision Number 35/PUU-X/2012. This study aims to analyze the legal politics of indigenous peoples’ rights recognition following the decision from a human rights perspective. The research employed normative legal research using statutory, conceptual, and case approaches. Legal materials were collected through library research and analyzed qualitatively through legal interpretation and legal reasoning. The findings reveal that Constitutional Court Decision Number 35/PUU-X/2012 strengthened the constitutional position of indigenous peoples by affirming that customary forests are no longer part of state forests. However, the implementation of indigenous rights recognition continues to face challenges, including administrative barriers, regulatory fragmentation, and the absence of comprehensive legislation. From a human rights perspective, these challenges indicate a gap between constitutional recognition and substantive rights protection. Therefore, legal harmonization and institutional reforms are necessary to ensure the effective realization of indigenous peoples’ constitutional and human rights in Indonesia.


 


 

Article Details

Section

Articles

References

Arizona, Y. (2011). Perkembangan konstitusionalitas penguasaan negara atas sumber daya alam dalam putusan Mahkamah Konstitusi. Jurnal Konstitusi, 8(3), 257–314. https://doi.org/10.31078/jk833

Cahyaningrum, D. (2015). Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi mengenai status hutan adat sebagai hutan hak. Kajian, 20(1), 1–15. https://doi.org/10.22212/kajian.v20i1.566

Dhyta, N. B., & Prasna, A. D. (2025). Analisis disharmoni kriteria pengakuan masyarakat hukum adat dalam perspektif perundang-undangan. Limbago: Journal of Constitutional Law, 5(2), 69–79. https://doi.org/10.22437/limbago.v5i2.43748

Gusliana, H. B., & Hanifah, M. (2018). Pola perlindungan hutan adat terhadap masyarakat adat di Provinsi Riau pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012. Jurnal Hukum Respublica, 16(1), 183–200. https://doi.org/10.31849/respublica.v16i1.1435

Husni, A., Mandala, O. S., & Bimarasmana, M. (2022). Hak-hak masyarakat adat dalam politik hukum agraria di Indonesia. Jurnal Fundamental Justice, 3(2), 91–112. https://doi.org/10.30812/fundamental.v3i2.1964

K, I., Sidrap, A., & Pratama, W. A. (2020). Penguatan hak-hak masyarakat hukum adat Ammatoa Kajang sebagai wujud realisasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012. Jurnal Legislatif, 3(2), 254–268. https://doi.org/10.20956/jl.v3i2.10470

Kepel, C. A. (2020). Perlindungan hukum terhadap hak masyarakat adat ditinjau dari perspektif hukum hak asasi manusia. Lex Administratum, 8(4). https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/administratum/article/view/31059

Maulana, I. (2025, December 22). Mengapa begitu sulit sahkan UU Masyarakat Adat? Mongabay Indonesia. https://www.google.com/amp/s/mongabay.co.id/2025/12/22/mengapa-begitu-sulit-sahkan-uu-masyarakat-adat/amp/

Nababan, N. F., & Anggusti, M. (2025). Pengakuan wilayah adat dalam perspektif hukum: Perbandingan masyarakat adat dengan dan tanpa SK pemerintah kabupaten serta urgensi RUU Masyarakat Adat. Hukum dan Masyarakat Madani, 15(2), 283–298. https://doi.org/10.26623/humani.v15i2.13078

Nasution, A. S. (2015). Analisis yuridis penguasaan tanah masyarakat hukum adat Kecamatan Simangambat pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012. Premise Law Journal. https://doi.org/10.31289/arbiter.v3i1.620

Pradipta, F. T. D. (2025). Nagari dan desa dalam otonomi desa: Sebuah perspektif komparatif. Jurnal Terapan Pemerintahan Minangkabau, 5(2), 113–124. https://ejournal.ipdn.ac.id/jtpm/article/view/5527

Pradipta, F. T. D. (2026). Problematika pengakuan tanah ulayat masyarakat Minangkabau dalam perspektif hukum administrasi negara serta disharmonisasi regulasi. BELEID: Journal of Administrative Law and Public Policy, 4(1). https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/beleid/article/view/39655

Pradipta, F. T. D., & Hidayat, N. (2025). Partai politik dan pembangunan daerah: Studi dinamika elektoral di Sumatera Barat pasca reformasi. Jurnal Pembangunan Nagari, 10(2), 122–137. https://ejournal.sumbarprov.go.id/index.php/jpn/article/view/707

Pradipta, F. T. D., Risqilah, A. I. U., Natasya, D., Ansyari, I., & Saputra, A. (2026). Dialektika politik hukum dalam pembentukan RUU Masyarakat Adat di Indonesia antara rekognisi dan kepentingan negara. Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research, 4(2), 2273–2287. https://doi.org/10.69693/ijim.v4i2.724

Rachman, N. F. (2014). Masyarakat hukum adat adalah bukan penyandang hak, bukan subjek hukum, dan bukan pemilik wilayah adatnya. Wacana: Jurnal Transformasi Sosial, 33, 4–18.

Rahmadani, S., & Pradipta, F. T. D. (2026). Politik identitas dalam pemilu Indonesia dan peran institusi budaya serta keislaman. Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research, 4(2), 2000–2011. https://doi.org/10.69693/ijim.v4i2.688

Republic of Indonesia. (1945). The 1945 Constitution of the Republic of Indonesia.

Republic of Indonesia. (1960). Law Number 5 of 1960 concerning Basic Agrarian Principles.

Republic of Indonesia. (1999). Law Number 39 of 1999 concerning Human Rights.

Republic of Indonesia. (2014). Minister of Home Affairs Regulation Number 52 of 2014 concerning Guidelines for the Recognition and Protection of Indigenous Peoples.

Reumi, F. (2023). Politik hukum pengakuan eksistensi masyarakat hukum adat: Telaah kritis Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021. Papua Law Journal, 7(2). https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/PLJ/article/view/2876

Salim, H. S. (2013). Dasar-dasar kehutanan (Rev. ed.). Sinar Grafika.

Siscawati, M. (2014). Masyarakat adat dan perebutan penguasaan hutan. Wacana: Jurnal Transformasi Sosial, 33.

Sitoningrum, N., Hariandja, R., & Suprayitno, T. (2025, January 7). Sulitnya masyarakat adat dapatkan pengakuan dan perlindungan. Mongabay Indonesia.

Soepomo. (1981). Bab-bab tentang hukum adat. Pradnya Paramita.

Sukirno, S. (2016). Tindak lanjut pengakuan hutan adat setelah Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012. Masalah-Masalah Hukum, 45(4), 259–267. https://doi.org/10.14710/mmh.45.4.2016.259-267

Tobroni, F. (2016). Menguatkan hak masyarakat adat atas hutan adat (Studi Putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012). Jurnal Konstitusi, 10(3), 461–482. https://doi.org/10.31078/jk1035

Wibisana, N. A., Lema Udjan, B. G., & Solfian, S. (2024). Perlindungan masyarakat hukum adat dalam bentuk pengakuan masyarakat adat: Studi kasus masyarakat eks Desa Sendi, Pacet-Mojokerto. Sapientia et Virtus, 9(1), 385–397. https://doi.org/10.37477/sev.v9i1.441

Wibowo, B. A. (2025). Tinjauan HAM pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024: Penetapan kawasan konservasi dan areal preservasi tanpa free, prior, and informed consent masyarakat adat. Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia, 10(2), 289–318. https://doi.org/10.38011/jhli.v10i2.873

Zakaria, R. Y. (2014). Kriteria masyarakat (hukum) adat dan potensi implikasinya terhadap perebutan sumber daya hutan pasca Putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012. Wacana: Jurnal Transformasi Sosial, 33. https://www.academia.edu/7698273/Kriteria_Masyarakat_Hukum_Adat_dan_Potensi_Implikasinya_terhadap_Perebutan_Sumberdaya_Hutan_Pasca_Putusan_MK_Nomor_35_PUU_X_2012_Studi_Kasus_Kabupaten_Kutai_Barat_Kalimantan_Timur